Cari Berita

Kegiatan

Testimoni

  • Gregorius Tsiompah

    Gregorius Tsiompah



    Pendidikan tinggi adalah investasi masa depan, itulah yang menjadi motivasi pada saat saya

  • Syahrudin

    Syahrudin



    UNRIYO khususnya Prodi Teknik Informatika telah mengubah hidup saya....Pada awalnya saya adalah

  • Alfons Hilarius Magang

    Alfons Hilarius Magang



    Ilmu yang saya dapat di S1 Kesehatan Masyarakat UNRIYO serta pengalaman dalam beorganisasi, dan

Catatan Mahasiswa HI : Wejangan Dubes Ramli Saud

Catatan Mahasiswa HI : Wejangan Dubes Ramli Saud

kuliah umum 
"Upaya Diplomasi Indonesia dalam Mewujudkan SDM yang Berkompeten di Era MEA"

Seminggu yang lalu saya dihubungi oleh ketua himpunan mahasiwa HI Unriyo. Bu kahim meminta bantuan ke saya untuk menjadi MC pada acara kuliah umum yang akan diselenggarakan HIMAHI (Himpunan mahasiswa hubungan internasional), sebagai program kerja terakhir sebelum beliau lengser dari jabatan. Tepatnya pada hari kamis 19 mei 2016, alhamduliilah acara kuliah umum berjalan dengan lancar, saya turut senang dan bahagia (ntah apa perbedaannya :D) menjadi bagian dari acara tersebut. Senangnya karena teman- teman dan dosen masih mempercayai saya untuk kembali memandu acara yang biasa himahi dan prodi adakan dan bahagia karena alhamdulilllah saya baru menyadari bahwa saya memang masih cukup percaya diri untuk “ngemsi”, secara gitu, sebagai mahasiswi yang menuakan diri karena sedang menjalin hubungan yang ”complicated” dengan laporan magang dan skripsi, hehe.

Tema kuliah umum tersebut adalah “Upaya diplomasi Indonesia dalam mewujudkan SDM yang berkompeten di era Masyarakat ekonomi ASEAN”, dengan pembicara bapak Ramli Saud, SH, LLM, beliau merupakan mantan duta besar indonesia untuk Ethiopia dan Uni Afrika , seorang dosen HI di london school of public relations (LSPR) Jakarta, dan kini sedang menempuh gelar Doktor dengan mengambil konsentrasi ilmu hubungan internasional dan diplomasi di Universitas Padjajaran, Bandung. Sementara itu hadir pula bapak Hartanto S.IP, MA, dosen kami tercinta asal Brebes  yang menjadi moderator pada hari itu.

Alhamdulillah sudah beberapa kali HI Unriyo menghadirkan mantan diplomat untuk berbagi ilmu dengan para mahasiswa. Sebelum pak Ramli, pernah juga pak kristio wahyono, SH seorang mantan diplomat yang pernah bertugas di Timor Leste dan beberapa negara yg memberikan kami wejangan- wejangan “bernegosiasi” dan belajar seni berdiplomasi untuk tidak sekedar menjadi teori. Saat ini juga alhamdulillah beliau sudah menjadi pembina di prodi kami. Mendengar kata diplomat, tentu saja dibenak kita identik dengan seorang yang sangat penting, identik dengan “VIP”, dan mungkin sedikit kaku. Terang saja karena kita mikirnya juga beliau- beliau itu adalah orang- orang pilihan yang melalang buana dari satu negara ke negara lain dengan salah satu kewajiban menyiarkan indonesia yang baik citranya, yang ada wibawanya dan memang patut di kenal dunia dan memang para diplomat sebagai representatifnya! Namun ternyata faktanya tidaklah demikian, ternyata seorang diplomat juga manusia biasa, yang ternyata juga suka bercanda , bahkan sampai curcol kalau diam- diam juga menggemari isyana saraswati , hehe.

Oke, lanjut kita fokus ke tema kuliah umum ya..
Cukup menarik memang kalau kita membahas terkait MEA, bahkan saya liat beberapa perguruan tinggi, LSM, dan instansi pemerintah dan non- pemerintah, gemar sekali menjadikan MEA sebagai topik bahasan (memang sudah seharusnya dilakukan). Apalagi beberapa tahun belakangan, kebanyakan yang didebatkan terkait peluang dan tantangan atau bahkan melihat MEA juga sebagai “ancaman” (yang realis mana suaranya? haha). Intinya terdapat pro dan kontra. Namun apalah daya, MEA sudah berlaku bahkan sudah diresmikan akhir Desember 2015 yang lalu, so memang yang harus difokuskan adalah tentang peluang- peluang yang ada. Kemudian bagaimana korelasinya antara MEA dan SDM? Simple saja, MEA itu situasi dan SDM itu ya kita, kita mau ambil peluang, kita mau makan atau mau dimakan? Begitulah awal pak Ramli menjelaskan, walaupun sebenarnya beliau menyadari bahwa beliau bukan seorang yang terlalu realis, hehe.

Berbicara masalah MEA tentu saja tak terlepas dengan adanya globalisasi. Meskipun globalisasi merupakan suatu proses yang bersifat multidimensi namun secara umum kita bisa melihatnya dari sudut pandang makro ekonomi. Menurut “om” Thomas Friedman nih, globalisasi merupakan suatu kombinasi longgar antara prinsip perdagangan bebas, internet, pasar modal yang menghapus batas- batas negara dan yang mengintegrasikan dunia ke dalam suatu pasar yang produktif tetapi sekaligus juga sangat kompetitif. Memang benar bahwa hadirnya MEA juga karena adanya globalisasi ekonomi jauh- jauh hari (moggo dibaca sendiri terkait sejarah terbentuknya MEA). Berbicara masalah globalisasi ekonomi ternyata juga banyak pro kontranya. Namun pak Ramli memberi contoh dampak positif akan fenomena tersebut. Kebetulan beliau yg memang pernah “menyicipi” Afrika. Beliau menjelaskan “dulu bahkan mungkin sampai sekarang orang- orang taunya Afrika itu panas, tandus, miskin dan semua hal- hal negatif (saya jadi teringat dari jaman SD memang Afrika dideskripsikan demikian, ethiopia negara termiskin, dll), tapi sekarang percayakah anda kalau Addis Ababa punya MRT? bandara di sana sudah mencapai rute penerbangan ke 60 negara? Pasti anda tidak percaya. Jangan percaya saya, tapi coba anda cek sendiri. Pemerintah disana memang gencar sekali dengan liberalisasi dan lebih terbuka dengan dunia, rakyat jadi makmur dan sejahtera”. tandas beliau.

Dengan adanya MEA sekarang setidaknya kita bisa belajar dari beberapa negara yang memang berupaya sekeras tenaga untuk bisa menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Kita tidak bisa memunafikan diri dengan sebuah peruabahan, changes is the only constant! Harapan terbesar kita tentu saja MEA bisa merubah indonesia menjadi lebih baik bukan? Kalau yang kita harapkan adalah perubahan yang positif, tentang kesejahteraan rakyat, lalu bisa dimulai darimana dulu? Tentu saja dari SDMnya.
Setidaknya kita harus tahu dulu, MEA 2015 mempunyai 4 karakteristik, yaitu: pasar tunggal dan basis produksi, kawasan ekonomI yang berdaya saing tinggi, kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata, dan kawasan yang terintegrasi penuh dengan ekonomi global. Dengan karakteristik tersebut sangatlah terlihat bahwa kompetisi akan semakin tajam, tapi insyaallah peluang akan semakin terbuka juga. Lalu sudah siapkah kita? Pertanyaan tersebut terkait perubahan yang harus kita lakukan, sebagai bagian dari sumber daya manusia indonesia yang harusnya berkompeten.

Mengenai hal tersebut, pak Ramli menjelaskan, ada beberapa hal yang harus kita ubah. Yang pertama yaitu mengenai cara pandang (mindset) baru tentang ASEAN, kita harus tahu sekarang ASEAN itu yang terhubung bukan antar pemerintahan antar negara/ para pejabat saja, ASEAN bukan hanya urusan pemerintah, ini sudah jadi urusan kita! nah loh? sekarang masyarakat juga seharusnya ikut ambil bagian dan menyadari bahwa mereka juga bagian dari masyarakat ASEAN. Sudahkah kita memiliki jiwa sebagai warga ASEAN? Coba tanya orang- orang belanda ketika mereka ditanya darimana, mereka jawabnya kami dari uni eropa, coba tanya orang ethiopia atau afrika selatan, mereka akan jawab, kami orang uni afrika. Lalu kita? Boro- boro orang Asean, ketika saya disangka orang kalimantan pun saya bantah habis- habisan. Lah kan saya orang sungai penuh (jambi) campuran jawa *eh Hehe. Yang kedua yaitu mengenai kemampuan dan kemauan memanfaatkan informasi atau peluang yang tersedia dalam ICT. Sekarang jamannya udah interconnected network (internet), jadikan internet sebagai sarana untuk mencari informasi sebanyak- banyaknya tentang ASEAN, MEA, dan tentang isu- isu terkait. Jalin komunikasi jangan hanya dengan teman- teman di indonesia saja, tapi juga dengan dunia luar. Misalnya buat kita yang mahasiswa, yang di BEM, di Himpunan mahasiswa cari link dengan mahasiswa- mahasiswa di ASEAN, buat beberapa acara berdiskusi bersama sharing dll. Buat para pengusaha, jadikan usaha anda bisa go ASEAN, jadikan asean sebagai target pasar, karena memang banyak sekali peluang yang ada. Terakhir, yang ketiga yaitu kemampuan berkomunikasi ( bahasa inggris dan bahasa lainnya) untuk mewujudkan konektivitas ASEAN. Mengenai hal ini ternyata diam- diam di thailand sana sudah banyak masyarakatnya yang tertarik untuk belajar bahasa indonesia, banyak sekali lembaga kursus bahasa asing disana. Masyarakat Thailand memang sangatlah antusias dengan MEA, dan mereka sadar bahwa indonesia itu ladang empuk buat bercocok tanam. Sadarkah kita? kalau kita sudah diincar?  Wah saya jadi ingat dengan teman- teman dari Thailand yang mengambil studi HI di salah satu universitas di semarang dengan jalur beasiswa. Hmmm...

Diakhir kuliah umum, pak Ramli banyak sekali menjelaskan tentang kiat-kiat untuk bekerja di kemenlu dan ataupun yang ingin menjadi diplomat. Beliau juga menjelaskan, kalau pun nanti belum berkesempatan untuk meniti karir di kemenlu, jangan kecewa. Ada banyak peluang di pemerintahan daerah, cobalah berkontribusi untuk daerah, supaya daerah juga bisa berpeluang untuk go internasional, misal dengan sister city/ province, misal di bagian biro kerjasama luar negeri di pemda, di INGO, LSM dll, atau yang ingin jadi pengusaha, usahanya harus go internasional, ucap beliau 
Mengakhiri rangkaian acara kuliah umum tersebut, saya mengutip kata- kata beliau.

Dalam menghadapi MEA, hendaknya kita
Ketahui MEA
Pahami MEA
Dan berkontribusilah untuk MEA

Karena
MEA itu kita,
MEA itu Indonesia, 
MEA itu saya dan MEA itu Anda.

Wassalamualaikum Wr. Wb


Rindu Fitri Mahalia


Berita Terkait

Workshop Kurikulum Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Respati Yogyakarta

Unriyo Melepas Tim Sakura Exchange Program In Science

Optimalisasi Efek Terapeutik Dengan Standar Dosis Terkini

Prodi Sastra Inggris Mengadakan Speaking Outing Class di Makam Raja Mataram

Kapita Selekta Gizi Klinik I dan II Prodi S1 Ilmu Gizi Semester Genap TA 20

Halaman Lain