YOGYAKARTA (ILKOM) - Suasana hangat dan penuh antusiasme menyelimuti Glasshouse, UG Floor Pakuwon Mall Jogja pada Minggu siang. Di tengah deretan foto-foto cerita yang memikat mata, sepuluh peserta terpilih dari pelajar, mahasiswa, hingga anggota komunitas fotografi, duduk khidmat mengikuti Workshop Mini PaKarMoto bertajuk "Bikin Foto Cerita? Gini Caranya!" pada Minggu (10/08/2025) lalu.
Workshop ini menjadi penutup dari rangkaian acara The 3rd of PaKarMoto yang telah berlangsung selama dua pekan dari Senin, 28 Juli 2025 hingga Minggu, 10 Agustus 2025, menampilkan karya-karya fotografi penuh cerita. Tak sekadar melihat, para peserta diajak memahami proses kreatif di balik sebuah foto cerita mulai dari menemukan ide, mengolah visual, hingga merangkainya menjadi narasi yang kuat.
Membaca Dunia, Menemukan Cerita

Sebelum menekan tombol shutter, mata fotografer cerita saat melihat dunia tidak hanya merekam momen, tetapi mencari, menemukan, dan membangun ide cerita visual. Mohammad Solihin, dosen prodi ilmu komunikasi UNRIYO membuka sesi dengan mengajak peserta melihat foto bukan sekadar gambar, tetapi jendela untuk membaca dunia. Sebuah foto yang bercerita adalah jembatan antara realitas dan hati penontonnya.
“Cerita ada di sekitar kita, bahkan dalam hal-hal yang terlihat biasa,” ujar Solihin.
“Kuncinya adalah peka terhadap detail, emosi, dan konteks yang menyertainya. Fotografi cerita dimulai dari keberanian untuk mengamati dengan hati.” tambah dosen yang pernah jadi foto jurnalis mulai 1998 hingga 2005 ini.
Sementara itu, Moch. Subechi Nurcahyo yang membedah teknik visual agar foto bisa “bicara” kepada penontonnya.
“Foto yang baik itu bukan hanya tajam dan indah, tapi punya kekuatan menyampaikan pesan,” jelas Beky.
“Komposisi, pencahayaan, dan urutan foto akan menentukan bagaimana penonton memahami cerita yang ingin kita sampaikan,” lanjut eks editor foto Jawa Pos ini.
Ia juga memberikan contoh bagaimana sebuah foto dijadikan hook sebagai pintu masuk ke rangkaian cerita yang lebih kompleks.
Penutup sekaligus narasumber ketiga, Yanus Purwansyah Sriyanto, membagikan tips menyusun narasi dari satu foto menjadi seri yang padu.
“Ibarat novel, setiap foto adalah bab yang saling terkait,” ungkap Yanus, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UNRIYO yang pernah magang foto jurnalis di tabloid bola, sambil menunjukkan beberapa contoh narasi pada karya foto yang dipamerkan.
Setelah ketiga materi dipaparkan, suasana workshop semakin cair dengan sesi tanya jawab. Peserta aktif mengajukan pertanyaan, mulai dari cara menemukan ide yang orisinal hingga tips teknis saat memotret di ruang publik.
Praktik Hunting Foto Cerita

Tak hanya teori, peserta diajak langsung mempraktikkan ilmu foto cerita yang baru saja dipelajari. Mereka dibagi waktu untuk hunting foto di sekitar area pameran PaKarMoto di Pakuwon Mall Jogja. Tugas mereka membuat 5 foto cerita mengenai pameran foto PaKarMoto.
Selama proses ini, dibantu oleh fasilitator dari panitia mahasiswa yang karya photo story nya dipamerkan membantu para peserta untuk memberikan arahan teknis dan masukan langsung di lapangan. Peserta terlihat bersemangat mencari momen, memotret interaksi pengunjung, hingga merekam detail kecil yang sering terlewat.
Setelah waktu praktik selesai, setiap peserta mempresentasikan hasil foto ceritanya di hadapan seluruh peserta dan narasumber.
“Foto cerita saya mengenai PaKarMoto dibalik lensa amatir yang merekam momen kegiatan workshop mini PaKarMoto dengan teknik framing, detail, dan entire,” cerita Panji Setya Putrahadi, mahasiswa Sosiologi UGM saat menceritakan hasil praktik hunting foto ceritanya.
Ketiga narasumber kemudian memberikan feedback konstruktif mulai dari ide cerita, kekuatan narasi visual, hingga teknik pengambilan gambar.
Workshop mini ini menutup dua pekan pameran PaKarMoto dengan kesan mendalam. Bagi peserta, ini bukan sekadar belajar fotografi, melainkan perjalanan memahami bagaimana gambar bisa menjadi bahasa yang menghubungkan emosi, cerita, dan penonton.
“Foto bercerita bukan hanya tentang gambar, tapi tentang bagaimana kita memberi nyawa pada momen. Itulah yang membuat sebuah karya bisa dikenang,” tutup Mohammad Solihin, Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi UNRIYO ini. (IILKOM FOTO/Riska Sypapauziah. CS)
.