Yogyakarta, 10 April 2026 – Suasana akademik yang khidmat namun dinamis terasa di kegiatan Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO) di INNSiDE by Melia Yogyakarta, pada hari pertama pelaksanaan Workshop Visi Misi dan Kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Kegiatan yang berlangsung selama [sebutkan durasi, misal: dua hari] ini menghadirkan narasumber utama Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs. (Hons), selaku Ketua Kolegium Keperawatan Indonesia. Hadir pula Rektor, Wakil Rektor 1, Dekan, serta segenap peserta dari berbagai unsur, mulai dari dosen, tenaga kependidikan (tendik), alumni, mahasiswa, clinical instructor (CI), stakeholder, Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), hingga Pusat Mediasi Fakultas (PMF).
Kegiatan ini bertujuan untuk menjaring masukan, arahan, dan merumuskan kembali visi dan misi program studi serta menyusun kurikulum OBE yang responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja. "Kurikulum OBE tidak hanya berorientasi pada capaian pembelajaran, tetapi juga pada outcome yang terukur dan relevan dengan ketentuan standar kompetensi nasional dan kebutuhan masyarakat serta stakeholder," ujar Prof. Nursalam dalam paparannya.
Sinergi Multi-Unsur: Dari Dosen hingga Stakeholder
Yang membedakan workshop ini adalah keterlibatan aktif semua pemangku kepentingan. Para dosen dan tendik duduk bersama dengan alumni yang telah berkecimpung di dunia kerja, mahasiswa yang merupakan pengguna langsung kurikulum, serta CI yang setiap hari berhadapan dengan praktik lapangan. Tak ketinggalan, para stakeholder dari berbagai mitra kerja sama turut memberikan masukan langsung mengenai kompetensi apa yang paling dibutuhkan di dunia nyata.
"Kami ingin mendengar langsung dari berbagai pihak yang hadir. Apa yang kurang? Apa yang perlu ditingkatkan? Ini adalah momen evaluasi sekaligus perencanaan yang sangat berharga," ungkap Prof. dr. Hari Kusnanto Josef, Dr.PH., Sp.KKLP., selaku Rektor UNRIYO dalam sambutannya.

Pemaparan Prof Nursalam: Tren dan Tantangan Pendidikan Keperawatan
Memasuki sesi inti, Prof. Nursalam menyampaikan materi tentang tren global pendidikan keperawatan serta tantangan implementasi OBE di Indonesia. Beliau menekankan bahwa kurikulum harus mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi efektif, dan kepemimpinan.
"Standar kompetensi lulusan keperawatan terus berkembang. Kurikulum OBE memungkinkan kita untuk fleksibel menyesuaikan capaian pembelajaran dengan kebutuhan layanan kesehatan yang terus berubah," jelasnya.
Para peserta tampak antusias menyimak, dengan beberapa dosen aktif bertanya mengenai mekanisme asesmen OBE dan bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam kurikulum berbasis outcome.

Diskusi Kelompok: Merumuskan Visi Misi yang Hidup
Setelah pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang difasilitasi oleh LPM dan PMF. Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok campuran (dosen, alumni, mahasiswa, CI, stakeholder) untuk merumuskan draft visi dan misi. Suasana diskusi berlangsung hangat dan produktif. Berbagai masukan mengalir: dari alumni yang menyoroti pentingnya soft skill, dari stakeholder yang menekankan penguasaan teknologi kesehatan, hingga mahasiswa yang menginginkan kurikulum yang lebih aplikatif dan tidak terlalu teoritis.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dalam arahannya menyampaikan apresiasi terhadap dinamika positif ini. "Kita tidak sedang membuat kurikulum untuk dosen, tetapi untuk mahasiswa dan masa depan layanan kesehatan. Masukan dari semua pihak adalah nafas dari kurikulum yang hidup," ujarnya.

Peran LPM dan PMF: Menjamin Mutu dan Kelancaran Proses
LPM dan PMF turut memberikan arahan terkait kebijakan penjaminan mutu internal yang harus terintegrasi dengan kurikulum OBE. Selain itu juga berperan mendukung arah diskusi agar tetap fokus pada tujuan dan menghasilkan rekomendasi yang konstruktif. Keterlibatan kedua lembaga ini memastikan bahwa workshop tidak hanya menghasilkan dokumen kurikulum, tetapi juga mekanisme evaluasi dan pengendalian mutu yang berkelanjutan.
Hasil Hari Pertama: Rumusan Awal dan Komitmen Bersama
Di akhir sesi hari pertama, berhasil dirumuskan beberapa poin penting, antara lain: kesepakatan untuk mengadopsi pendekatan OBE secara menyeluruh, identifikasi capaian pembelajaran lulusan yang akan menjadi acuan, serta peta jalan penyusunan kurikulum dalam waktu ke depan.
Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk melanjutkan workshop pada hari selanjutnya dengan fokus pada penyusunan final visi misi, mata kuliah dan evaluasi berbasis OBE. Kegiatan ini telah meletakkan fondasi. Selanjutnya akan dibangun keseluruhan kurikulumnya dan semangat kolaborasi ini harus terus terjaga.
Dengan terselenggaranya workshop ini, diharapkan lahir kurikulum OBE yang tidak hanya memenuhi standar nasional dan internasional, tetapi juga benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Universitas Respati Yogyakarta berkomitmen untuk terus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam setiap proses pengambilan keputusan akademik, karena pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang lahir dari kebersamaan.
(Redaksi/Ners UNRIYO)
.