YOGYAKARTA – Perwakilan Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY sukses menyelenggarakan kegiatan Advokasi dan Komunikasi, Informasi serta Edukasi (KIE) Pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) pada Kamis, 7 Agustus 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk mempercepat penurunan angka stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan Advokasi dan KIE Pengasuhan 1.000 HPK dibuka oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, dimana dalam acara tersebut hadir Rektor Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO), tim peneliti UNRIYO, tim dari Dinas Kesehatan, BRIN, Kementerian Agama, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta dari organisasi lainnya. “Ini adalah bukti nyata sinergi berbagai pihak dalam membangun generasi yang sehat, cerdas, dan unggul sejak dini. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang terlibat dalam inisiasi dan pelaksanaan program ini,” ujar Sri Paduka saat membacakan sambutan Gubernur DIY dalam pembukaan acara di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.
Program Advokasi dan KIE Pengasuhan 1.000 HPK merupakan salah satu prioritas Kemendukbangga yang telah berjalan sejak awal 2025. Dalam implementasinya, BKKBN DIY bekerja sama dengan Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO) untuk menyusun *policy brief* yang akan disampaikan kepada pemangku kebijakan, termasuk pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta organisasi masyarakat, profesi, swasta, dan media.
Tiga peneliti UNRIYO yang melakukan riset atas penugasan BKKBN untuk mendukung program BKKBN tersebut adalah Dr. Delima Citra Dewi Gunawan dengan tema riset “Putus Rantai Gizi Buruk: Wasting jadi Stunting di Usia Kritis 6-24 Bulan”, Muflih, S.Kep., Ns., M.Kep dengan tema riset “Konsumsi Telur Fungsional Setiap Hari Meningkatkan Kadar Hemoglobin Anak Anemia”, dan Rahayu Widaryanti, SST., M.Kes dengan tema riset “Memahami Hambatan Praktik Pemberian MP-ASI”.
Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH., Sp.KKLP selaku Rektor UNRIYO dan pembahas utama dalam acara ini memberikan tanggapan mendalam terhadap tiga materi penelitian yang dipaparkan. Beliau menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam penanganan stunting, termasuk peran protein hewani khususnya ikan sebagai sumber gizi esensial.

"Protein dari ikan mengandung asam amino esensial yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan otak dan fisik anak dalam 1.000 HPK. Sayangnya, tingkat konsumsi ikan di masyarakat masih rendah, padahal DIY memiliki potensi perikanan yang bisa dioptimalkan," ujar Prof. Hari Kusnanto.
Beliau juga menyoroti temuan dari ketiga penelitian:
- **Pencegahan wasting sebelum menjadi stunting** – Perlunya intervensi gizi spesifik pada usia 6-24 bulan.
- **Telur fungsional untuk anemia** – Bukti bahwa intervensi sederhana seperti konsumsi telur dapat meningkatkan hemoglobin.
- **Hambatan pemberian MP-ASI** – Pentingnya edukasi kepada orang tua tentang praktik pemberian makanan pendamping ASI yang tepat.
"Ketiga penelitian ini menunjukkan bahwa stunting bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga edukasi dan kebiasaan pola asuh. Perlu ada program terintegrasi yang melibatkan sektor kesehatan, pertanian, dan pendidikan," tambahnya.
Mohamad Iqbal Apriansyah, Kepala Perwakilan Kemendukbangga/perwakilan BKKBN DIY, menekankan bahwa penanganan stunting mutlak diperlukan untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2025. Menurutnya, solusi tidak hanya terletak pada aspek ekonomi atau gizi, melainkan juga pada pola asuh, perawatan, dan tumbuh kembang anak.

“Kami berupaya memperkuat peran keluarga melalui kebijakan berbasis data yang terarah. *Policy brief* ini diharapkan dapat memetakan kondisi terkini, mengidentifikasi tantangan, dan memberikan rekomendasi strategis bagi pemangku kepentingan di DIY,” jelas Iqbal.
Hasil kajian ini akan dikompilasikan dalam *Bunga Rampai Policy Brief* dan didiseminasikan guna memperkuat komitmen bersama dalam mendukung pengasuhan optimal anak, khususnya di DIY. “Dengan kebijakan yang berbasis bukti, program 1.000 HPK dapat berjalan lebih efektif dan berdampak signifikan pada peningkatan SDM Indonesia,” tambahnya.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah diskusi, tetapi juga langkah nyata dalam mempercepat penurunan stunting melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Dengan dukungan kebijakan yang kuat dan intervensi berbasis penelitian, DIY diharapkan dapat menjadi contoh dalam pembangunan generasi berkualitas sejak dini.
.Kegiatan ini berkaitan dengan SDGs :