Massive: Jurnal Ilmu Komunikasi UNRIYO Di Kongres IV APJIKI, Menapaki Jalan Menuju Indeksasi Global

SEMARANG (ILKOM) – Di antara riuh rendah diskusi akademis dan derap langkah ratusan pengelola jurnal ilmu komunikasi se-Indonesia, Mohammad Solihin, S.Sos., M.A., Editor in Chief MASSIVE: Jurnal Ilmu Komunikasi dari Prodi Ilmu Komunikasi Program Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO), hadir dalam Kongres IV Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia (APJIKI) di Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Semarang, Kamis–Jumat (16–17 April 2026) lalu. Dosen tetap yang juga Sekretaris Prodi ini hadir dengan satu misi jelas, membawa jurnal kampusnya melangkah lebih jauh di kancah indeksasi global.

"Ini bukan sekadar agenda kehadiran, melainkan bagian dari strategi nyata mendongkrak kualitas publikasi akademik kampus," ujarnya.

Kongres APJIKI periode ini memang dirancang sebagai katalisator kolaborasi nasional. Selama dua hari, Aula E3 dan Gedung H UDINUS berubah menjadi ruang inkubasi ide bagi para editor, reviewer, dan akademisi yang haus akan tata kelola jurnal modern. Rangkaian acara dibuka secara simbolis oleh Wakil Rektor IV UDINUS, Dr. Ir. Dwi Eko Waluyo, M.M., didampingi Ketua Umum APJIKI Periode 2023–2026, Prof. Rajab Ritonga.

Puncak pembelajaran teknis terjadi pada sesi Coaching Clinic bertajuk “Manajemen Pengelolaan Jurnal Menuju Indexing Scopus dan WoS” pada Kamis sore. Narasumber utama, Assoc. Prof. Dr. Tutut Herawan dari University of Malaya—yang juga masuk dalam daftar Top 2% Scientist versi Stanford University—membongkar rahasia teknis, strategis, dan administratif di balik jurnal yang berhasil menembus Web of Science (WoS) dan Scopus. Dalam sesi interaktif ini, MASSIVE: Jurnal Ilmu Komunikasi tak luput dari sorotan. Secara langsung, Dr. Tutut menampilkan antarmuka WoS yang menyoroti sejumlah artikel terbitan MASSIVE telah berhasil terindeks sitasi, menjadi bukti nyata bahwa jurnal dari Prodi Ilmu Komunikasi Program Sarjana FISE UNRIYO ini telah berada di jalur yang tepat menuju standar internasional.

Bagi Mohammad Solihin, momen tersebut adalah validasi sekaligus peta jalan.

“Kehadiran di Kongres IV APJIKI dan coaching clinic ini memberikan kami perspektif yang lebih tajam. Indeksasi WoS bukan sekadar label prestisius, tetapi cerminan konsistensi kualitas, etika redaksi, dan dampak ilmiah yang terukur. Ini adalah bahan bakar bagi kami untuk terus memperbaiki tata kelola,” ungkapnya.

Sebagai dosen dan pengelola jurnal di UNRIYO, Solihin melihat bahwa pemahaman mendalam tentang kebijakan penggunaan AI yang dibahas pada materi sebelumnya oleh Prof. Dr. Istadi dan Tauchid Komara Yuda, Ph.D., harus diintegrasikan ke dalam standar operasional redaksi MASSIVE ke depan.

Dinamika kongres berlanjut pada hari kedua (17 April 2026) di Gedung H Lantai 7, yang diisi dengan sidang pleno, laporan pertanggungjawaban pengurus APJIKI periode III (2023–2026), penjelasan tata cara pemilihan ketua, hingga penyerahan bendera simbolis ke Ketua APJIKI periode baru 2026–2029. Di balik proses regenerasi organisasi jurnal tersebut, kehadiran aktif perwakilan UNRIYO menegaskan peran strategis dosen-dosen ilmu komunikasi dalam ekosistem publikasi nasional. Jaringan yang terbangun di Semarang menjadi modal berharga untuk akselerasi kolaborasi peer-review, pelatihan penulisan akademik, dan peningkatan metrik dampak jurnal. (cs) 

 

Follow INSTAGRAM: @ilkom_unriyo
FACEBOOK: Prodi Ilmu Komunikasi Unriyo
YOUTUBE CHANNEL: Prodi Ilmu Komunikasi UNRIYO

.

Berita Sebelumnya 3 Mahasiswa HI UNRIYO Berhasil Mempublikasikan Karya Tulis Ilmiah Penelitian dan Pengabdian…
Berita Selanjutnya Satu lagi Dosen Prodi Kebidanan Program Diploma Tiga Sukses Meraih Gelar Doktor