YOGYAKARTA (FISE) – Sabtu (23/8/2025) lalu menjadi hari penting bagi Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE) Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO). Melalui ruang daring, FISE kembali menyelenggarakan “The 2nd International Conference on Social Sciences and Economics (IConSE) 2025” dengan mengangkat tema “Youth, Work, and the Future of Social Mobility”.
Sejak pukul 08.00 WIB, ratusan peserta dari berbagai kalangan—mahasiswa, akademisi, peneliti, hingga praktisi—telah bergabung melalui Zoom Meeting serta kanal YouTube Great Unriyo. Konferensi ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik UNRIYO, Dr. Ariyanto Nugroho, SKM, M.Sc., bersama Dekan FISE UNRIYO, Khaula Lutfiati Rohmah, S.E., Akt., M.Ak.CA., menandai dimulainya forum ilmiah internasional yang diharapkan menjadi ruang berbagi gagasan, riset, sekaligus memperluas jejaring akademik.

“Sangat menyenangkan melihat begitu banyak dari Anda hari ini pada Konferensi Internasional Kedua ICONSE, kami berharap acara ini dapat menjadi forum bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti untuk berbagi ide, sehingga dapat saling mempengaruhi dan menginspirasi. Mungkin ada peluang untuk bekerja sama setelah konferensi ini, dalam berbagai cara yang berbeda yang dapat membantu generasi muda kita menjadi lebih cerdas, lebih etis, dan sangat adaptif,” sambut Khaula Lutfiati Rohmah, Dekan FISE UNRIYO.
“Dan semoga ICONSE berikutnya kita dapat bertemu secara langsung di kota Yogyakarta yang indah dan menjelajahi negara tercinta kita Indonesia, terutama bagi penulis dan peserta internasional,” tambahnya.
Forum Ide tentang Anak Muda dan Mobilitas Sosial
Tema konferensi tahun ini dinilai relevan dengan kondisi global saat ini, di mana generasi muda memegang peran penting dalam dinamika kerja dan perubahan sosial. Adapun subtema yang diangkat diantaranya Digital Literacies and the Future of Communication among Youth; From Classroom to Career: Reimagining?Pathways to Social Mobility; Youth Employment and Global Inequality: The Role of International Institutions in Promoting Social Mobility : Empowering Youth through Sustainable Finance: Enhancing Social and Economic Access for Inclusive Growth : atau isu lainnya yang berkaitan dengan anak muda dan mobilitas sosial.
“Masa depan mobilitas sosial merupakan kemampuan individu atau kelompok usia muda untuk meningkatkan status sosial-ekonominya melalui Pendidikan, pekerjaan, atau kewirausahaan,” ungkap Mohammad Solihin, selaku General Chair IConSE 2025.

“Masa depan di sini mengacu pada bagaimana kondisi global seperti AI, pandemi, perubahan iklim, dan globalisasi memengaruhi peluang anak muda untuk naik kelas sosial,” lanjut dosen Prodi Ilmu Komunikasi ini.
Tiga pembicara utama dijadwalkan hadir memberikan pandangan mendalam yakni Cesaltina Angela Soares, L.CP., M.Si. (University of Dili, Timor-Leste), Dr. Yeyen Subandi, S.IP., M.A. (Universitas Respati Yogyakarta, Indonesia), dan Robby Anggriawan, S.Pd., M.S. (Illinois State University, United States).

Namun demikian, salah satu keynote speaker, Robby Anggriawan, tidak dapat hadir pada hari konferensi dikarenakan mengalami kendala teknis. Meski begitu, jalannya konferensi yang dimoderatori oleh Yohanes Angie Kristiawan, S.Pd., M.Hum. (dosen Prodi Sastra Inggris) tetap berlangsung dinamis dengan digantikan oleh Tri Septa Nurhantoro, S.S., M.Hum (Universitas Respati Yogyakarta, Indonesia), terutama berkat pemaparan Cesaltina dan Yeyen yang menyoroti peran kaum muda dalam membentuk masa depan mobilitas sosial di tengah tantangan ekonomi global.
Antusiasme Peserta di Ruang Virtual
Tidak hanya menghadirkan pembicara utama, konferensi ini juga menjadi wadah bagi dosen dan mahasiswa dari dalam maupun luar negeri untuk mempresentasikan riset-riset terbaru mereka. Diskusi hangat mengalir dari berbagai panel, memperlihatkan antusiasme peserta dalam memberikan tanggapan maupun pertanyaan kritis.

Bagi banyak peserta, IConSE bukan sekadar ajang berbagi ilmu, melainkan juga ruang untuk menumbuhkan optimisme terhadap masa depan. “Melalui forum seperti ini, kita belajar bahwa perubahan sosial tidak bisa ditunda. Anak muda harus punya akses dan kesempatan,” ujar Ika Purwaningsih, salah seorang peserta dalam sesi diskusi.
Menjelang sore hari, IConSE 2025 ditutup dengan harapan besar agar konferensi internasional ini terus berlanjut sebagai tradisi akademik UNRIYO. Meski sempat terkendala ketidakhadiran salah satu pembicara, semangat kolaborasi lintas negara tetap terasa kuat. Bagi UNRIYO, IConSE bukan hanya forum ilmiah tahunan, tetapi juga jembatan menuju dunia akademik global, tempat ide-ide tentang pemuda, kerja, dan mobilitas sosial terus dipertemukan demi masa depan yang lebih inklusif. (MS)
.Kegiatan ini berkaitan dengan SDGs :