Workshop Kurikulum OBE Prodi Keperawatan UNRIYO: Hadirkan Narasumber dari BPBD dan Asosiasi PT Ners Indonesia

Yogyakarta, 6 April 2026 – Suasana akademik yang khidmat namun dinamis terasa di Ruang Rapat Kampus 2 Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO) pada Senin pagi (6/4). Program Studi Pendidikan Keperawatan Sarjana, Fakultas Ilmu Kesehatan, menggelar workshop visi misi dan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) hari pertama. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini menghadirkan dua narasumber ahli, yaitu Bapak Enaryaka, S.Kep. Ns., M.M. dari BPBD DIY serta Ibu Windy Rakhmawati, S.Kp., M.Kep., Ph.D. yang merupakan pakar di bidang kurikulum dari Asosiasi Perguruan Tinggi Ners Indonesia.

Hadir pula Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, serta para peserta dari berbagai unsur: dosen, tenaga kependidikan (tendik), alumni, mahasiswa, clinical instructor (CI), stakeholder, Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), dan Pusat Mediasi Fakultas (PMF). Workshop ini bertujuan merumuskan kembali visi misi program studi serta menyusun kurikulum OBE yang responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja, khususnya dalam menghadapi tantangan kebencanaan dan pelayanan keperawatan masa depan.

Sinergi Multi-Unsur: Dosen, Tendik, Alumni, Mahasiswa, CI hingga Stakeholder

Yang membedakan workshop ini adalah keterlibatan aktif semua pemangku kepentingan. Para dosen dan tendik duduk bersama dengan alumni yang telah berkecimpung di dunia kerja, mahasiswa sebagai pengguna langsung kurikulum, serta CI yang setiap hari berhadapan dengan praktik lapangan. Tak ketinggalan, para stakeholder dari berbagai mitra kerja sama, termasuk BPBD DIY, turut memberikan masukan langsung mengenai kompetensi apa yang paling dibutuhkan di dunia nyata, terutama dalam situasi darurat dan bencana.

"Kami ingin mendengar langsung dari pengguna lulusan. Apa yang kurang? Apa yang perlu ditingkatkan? Ini adalah momen evaluasi sekaligus perencanaan yang sangat berharga," ujar Dekan Fikes UNRIYO dalam sambutannya.

Pemaparan Bu Windy Rakhmawati: Tren Kurikulum Keperawatan Nasional

Memasuki sesi pertama, Ibu Windy Rakhmawati, S.Kp., M.Kep., Ph.D. menyampaikan materi tentang perkembangan kurikulum pendidikan keperawatan di Indonesia serta arah kebijakan asosiasi perguruan tinggi ners. Beliau menekankan bahwa kurikulum OBE tidak hanya berorientasi pada capaian pembelajaran, tetapi juga pada outcome yang terukur dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta dunia kerja.

"Standar kompetensi lulusan keperawatan terus berkembang. Kurikulum OBE memungkinkan kita untuk fleksibel menyesuaikan capaian pembelajaran dengan kebutuhan layanan kesehatan yang terus berubah, termasuk dalam hal kebencanaan dan kegawatdaruratan," jelasnya.

Para peserta tampak antusias menyimak, dengan beberapa dosen aktif bertanya mengenai mekanisme asesmen OBE dan bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai lokal serta kesiapsiagaan bencana ke dalam kurikulum.

Pemaparan Pak Enaryaka dari BPBD: Kebutuhan Kompetensi Kebencanaan untuk Perawat

Sesi kedua menghadirkan Bapak Enaryaka, S.Kep. Ns., M.M. dari BPBD DIY. Beliau memaparkan pentingnya kesiapsiagaan tenaga kesehatan, khususnya perawat, dalam menghadapi situasi darurat dan bencana. Mulai dari triase, evakuasi korban, hingga manajemen logistik kesehatan di lokasi bencana.

"Perawat adalah garda terdepan dalam penanggulangan bencana. Mereka harus tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga tanggap, sigap, dan mampu bekerja dalam kondisi terbatas. Ini harus menjadi bagian dari kurikulum," tegasnya.

Paparan ini mendapat perhatian serius dari peserta, mengingat letak geografis DIY yang rawan bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan erupsi merapi. Para mahasiswa yang hadir pun mengaku mendapat wawasan baru tentang bagaimana profesi perawat berkontribusi secara nyata dalam kebencanaan.

Diskusi Kelompok: Merumuskan Visi Misi yang Hidup

Setelah pemaparan dari kedua narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang difasilitasi oleh LPM dan PMF. Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok campuran (dosen, alumni, mahasiswa, CI, stakeholder) untuk merumuskan draft visi dan misi. Suasana diskusi berlangsung hangat dan produktif.

Berbagai masukan mengalir: dari alumni yang menyoroti pentingnya soft skill dan etika profesi, dari CI yang menekankan penguasaan prosedur klinis dan dokumentasi keperawatan, dari stakeholder seperti BPBD yang menginginkan penguatan kompetensi kebencanaan, hingga dari mahasiswa yang menginginkan kurikulum yang lebih aplikatif, tidak terlalu teoritis, dan memberikan ruang magang yang lebih bermakna.

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dalam arahannya menyampaikan apresiasi terhadap dinamika positif ini. "Kita tidak sedang membuat kurikulum untuk dosen, tetapi untuk mahasiswa dan masa depan layanan kesehatan. Masukan dari semua pihak adalah nafas dari kurikulum yang hidup," ujarnya.

Hasil Hari Pertama: Rumusan Awal dan Komitmen Bersama

Di akhir sesi hari pertama, berhasil dirumuskan beberapa poin penting, antara lain:

  1. Kesepakatan untuk mengadopsi pendekatan OBE secara menyeluruh pada Program Studi Pendidikan Keperawatan Sarjana.

  2. Identifikasi capaian pembelajaran lulusan (CPL) yang akan menjadi acuan, dengan penekanan pada kompetensi kebencanaan dan kegawatdaruratan.

  3. Peta jalan penyusunan kurikulum baru dalam enam bulan ke depan, termasuk penyusunan mata kuliah dan asesmen berbasis OBE.

  4. Pembentukan tim kecil yang terdiri dari dosen, LPM, dan perwakilan stakeholder untuk menyempurnakan draft visi misi.

Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk melanjutkan workshop pada hari berikutnya dengan fokus pada penyusunan struktur mata kuliah, penetapan bobot SKS, serta rancangan asesmen berbasis OBE.

Dengan terselenggaranya workshop ini, diharapkan lahir kurikulum OBE yang tidak hanya memenuhi standar nasional dan internasional, tetapi juga benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, dan kesiapsiagaan bencana. Universitas Respati Yogyakarta berkomitmen untuk terus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam setiap proses pengambilan keputusan akademik, karena pendidikan keperawatan yang berkualitas adalah pendidikan yang lahir dari kebersamaan.

(Redaksi/Perawat)

.

Berita Sebelumnya Pengembangan Kerjasama UNRIYO dengan Binterbusih
Berita Selanjutnya Lulusan UNRIYO siap dengan Kompetensi, Inovasi dan Kesiapan Menghadapi Era Kecerdasan Buatan